Skip to main content

Posts

[Jalan Seorang Penghafal Al-Quran]

[Jalan Seorang Penghafal Al-Quran] Ketika engkau memilih jalan sebagai seorang penghafal Al-Quran, maka sungguh engkau telah mengambil suatu amanah yang amat berat. Amanah yang akan engkau pertanggungjawabkan dunia dan akhirat. Amanah yang mengharuskanmu mengurangi waktu selain Al-Quran. Amanah yang selalu menuntutmu untuk memantaskan diri. Amanah yang membuatmu tak sama seperti temanmu yang lain yang bebas melakukan apa saja, berteman dengan siapa dan pergi ke mana saja. Amanah yang akan membuatmu sering menangis ketika hafalanmu buruk. Amanah yang akan selalu mempertanyakan komitmenmu terhadapnya. Amanah yang akan selalu membuatmu merasa bersalah ketika melakukan satu dosa saja. Amanah yang akan mengurangi waktu istirahatmu. Amanah yang menuntutmu untuk selalu berinteraksi dengan Al-Quran. Begitu beratnya amanah ini sehingga dari sekian banyak hamba Allah di muka bumi, Allah percayakan amanah ini pada pundakmu. Gunung saja tidak sanggup memegang amana...

Novel WIGATI: "Antara Hanyut, Salut, dan terinspirasi"

Antara Hanyut, Salut, dan Menginspirasi (Tentang Wigati & Hati Suhita Karya Bu Khilma Anis) BABAK I                 Sejak awal, saya sudah curiga tentang isi novel ‘WIGATI’. Pertama kali saya tau buku itu dari story WA salah satu Bu Nyai tambakberas. Hehehe. Maklum, sebagai pecandu buku fiksi – yang notabene masih kawakan – saya langsung terpana dan segera mencari informasi tentang buku itu. dan beruntungnya, ada alumni pesantren yang mosting buku “WIGATI” dengan foto konsep sakral ala jawa. Saya chattingi , dan Seeett! Akhirnya tembus.                 Selang beberapa hari akhirnya si ‘WIGATI’ datang. Lengkap dengan wedang uwuh, penghangat badan. Mulai saya baca. Satu-dua lembar, hingga akhirnya saya sadar. Bahwa kejujuran adalah hal yang sangat dibenarkan. Dan saya jujur, kalau meninggalkan selembar “WIGATI” saja, s...

Kisah: Dikira Bangun Tidur

Kisah: Dikira Bangun Tidur Entah kenapa malam ini tiba-tiba aku terbangun. Kedinginan tidak, apalagi kebelet pipis. Sejak kecil, Ayah selalu mengajariku buang air kecil sebelum tidur. Dan sampai sekarang, aku tak bisa tidur sebelum kencing lebih dulu. A da apa ini? Dekap selimut lebih kurapatkan lagi, tapi sulit rasanya untuk tidur kembali. “Ah, ada apaa ini?!” . Gumamku dalam hati. Sementara sayup angin mesra mengibas-ibaskan daun pohon mangga yang ada didepan surau. Membuatnya landai jatuh ketanah. Aku bangkit, lalu melangkah diantara dengkur rekan-rekan. Disela-sela mimpi nakal mereka.             Ku terobos kesunyian. Mengelilingi bilik-bilik yang sepi. Masjid, parkiran, ruang tamu, kamar mandi, dapur, kantor. Semuanya lelap. Ku hembuskan nafas, lelah. Lalu mengibarkan pandangan ke langit. Menikam bui-bui bintang dan bulan.             “Kalau saja aku bisa ke...

๐Ÿ‘“ Kaca Mata ๐Ÿ‘“

๐Ÿ‘“  Kaca Mata  ๐Ÿ‘“ Beberapa debu menyeka pelipisku. Disini begitu rindang. Entah karena desain ruangannya, atau bintang yang berhamburan di atas sana. "Za, lepasen kacamata mu" "Lepas?  ๐Ÿคจ " Tanyanya. Aku mengangguk. Lantas dia memegang tangkai kacamatanya, mengangkatnya dari daun telinga, dan meletakkanya diatas meja. Aku tersenyum. Hariza terlihat bingung. "Lalu?  ๐Ÿ™„ " "Hehe. Ora. Nek melihat seorang berkacamata aku tertarik memintanya melepas kacamatanya  ๐Ÿ˜… " "Ooh. Hehehe  ๐Ÿ˜ " Suasana mendadak larut. Aku diam, dia juga. Dan soal kacamata, ku rasa itu hanya bual alasan. Minimal agar dia tau kalau aku suka. Kami menguap  ๐Ÿ˜ด . Sesaat setelah pesanan kami datang. Dua cangkir cappucino panas.  ☕ ☕

Kisah: SALING SAPA(?)

Kisah: SALING SAPA(?)  Sore itu, aku duduk diteras masjid. Menunggu Hariza yang kembali ke kamar, "Ambil Uang" Katanya. Disebelahku, ada beberapa anak. Usianya kira-kira 3 tahun lebih muda dariku. Mereka berkisah, tertawa, terpingkal. Biasa, sambil makan jajan dan membuang sampahnya di taman, sembarangan. Ironinya lagi. Beberapa detik setelah bocah-bocah itu serempak mengangguk karena disapa Burhan, sebayaku, mereka berbisik:  "Iku sopo se?! Ora kenal tapi sok kenal  ๐Ÿคจ " "Iyo. Kowa-kowwo des!  ๐Ÿ˜ ๐Ÿ˜œ " Timpal lainnya. Aku terhenyak memandangi mereka.  "Lhaiyooo  ๐Ÿ™„ " Bathinku Dan sekejap, senja menjadi malu seiring sahut gelak tawa mereka. _____________________ @affa_esens :  Achmad Nidzomi _____________________ Suka Puisi?  ๐Ÿ˜˜ Ada Puisi Baru; judulnya "Dingin" Berkisah tentangku dan kawan baruku. Kami berbincang, bercanda, dan sesekali diam. Klik: https://sukapuisii.blogspot.com...

Satu Dasawarsa Ibien Post

*Oleh Muhammad Zulianto . Pada bulan Juli lalu, sekelompok santri datang kapada saya. Atas nama Bumi Kreatif, mereka mengajak saya untuk mendongeng tentang kronologi adanya literasi di Bumi Damai Al-Muhibbin dengan iming-iming imbalan "gratis satu cangkir kopi" di kedai kenamaan di Tambakberas. Mereka tahu cara bagaimana sebuah tawaran tidak bisa ditolak oleh saya. Dengan embel-embel untuk mendongkrak minat baca tulis santri, mereka berlagak seperti Don Vito Corleone dalam film God Father "I'll make him an offer that he can't refuse". Tentu "syahwat rasan-rasan" dan "ghiroh ngopi" saya terpancing. Siapa "Pengopi" yang tidak suka jika diiming-iming ajakan "ngopi"?. Maka, pada selasa sore yang ditentukan, sebelum kopi pesanan tiba, mereka sudah mulai mencercar saya dengan pertanyaan-pertanyaan seputar kembang-kempis peri kehidupan litrasi di Muhibbin. Kapan titimangsa literasi di pesantren Muhibbin?, adak...

Selamat Hari Kamis (17)

____________________ Lagi-lagi Siapa dipaksa berfikir keras tentang hidup dan masa depan. Rekan-rekannya sudah sibuk 'menata hidup', sedang dia masih ringsut memikirkan 'apa itu hidup'. Dan, kalau saja kita diam, sepuluh tahun kedepan kita akan melihat Siapa dengan penuh 'belas kasihan'. Nuwus atas pepilinge,  ๐Ÿ™ ๐Ÿ’ช   ๐Ÿ’ช @affa_esens Miftahuddin Hadziq ____________________ ๐Ÿ’‍♂️ Imam Bayhaqi ๐Ÿ’‍♂️ Fiy *Inspiring ๐Ÿ™†‍♂️ Muhammad Ainur Rohman