Iki kisah langka. Tentang bagaimana serunya mengadu resah. Juga sulitnya menjaga niat. BAGIAN 1 Entah mimpi apa malam itu. Heheh Mendapat kesempatan bisa mbarengi belajar Faroidh adalah anugrah terindah. Indah, jika kita siap melalukannya. Berarti juga siap menghadapi segala kemungkinan yang belum sempat kita fikirkan sebelumnya. Berawal dari keinginan belajar Faroidh. Sedari awal nyantri, belum sekalipun ilmu faroidh ku pelajari. Sekedar membolak-balikkan lembaran kitabnyapun membuat pening kepala. Sampai pada suatu saat. Tepatnya beberapa bulan lalu, Pak "M" memberi tawaran belajar bareng. "Samian mau belajar Fafoidh a?" "Hehehe. Asline kepuingin Pak. Sejak kulo mondok, sampek sekarang belum perah belajar itu" "Ikut aku ae, belajar bareng. Nanti samian dapat kitab gratis. Gimana?" "Wuhh. Mantap niku Pak. Kapan?". Spontan hatiku mantap pingin ikutan. "Belajarnya malam hari. Tapi ada sya...
"Terus belajar dan membaca. Membaca pengalaman, alam sekitar, dan segala yang terkait dengan kehidupan"